Minggu, 18 Desember 2011

LRB, Solusi Cantik Cegah Banjir

Sabtu, 17 Desember 2011 pagi, hujan tampak mengguyur Kampus Universitas Udayana di Kawasan Sudirman. Kondisi alam yang tidak bersahabat ini tidak menyurutkan UKM Mahasiwa Pecinta Alam (Mapala) “Wanaprastha Dharma” menggelar Aksi Lingkungan Hidup.
Bertempat di Gedung Udayana University Press dengan mengusung tema “Pembuatan Lubang Resapan Biopori di Lingkungan Universitas Udayana”. Acara ini berlangsung atas kerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali. Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Ida Bagus Nyoman Sanjayadiputra dalam pidatonya, acara ini berlangsung sebagai Aksi Biopori di Kampus Udayana.  “Kami dari UKM Mapala “Wanaprastha Dharma” merasa tergelitik melihat hujan di lingkungan Kampus Unud Sudirman yang tergenang air, terutama di depan Gedung Pascasarjana,” ujarnya.
Sebagai pemateri dalam sosialisasi ini, Ni Made Armadi, S.P, M.Si selaku Kepala Sub.Bidang Konservasi Lahan dan Air BLH Provinsi Bali, memaparkan Lubang Resapan Biopori (LRB) ini merupakan solusi tepat guna dan ramah lingkungan. “Tepat guna dalam artian dapat mengurangi sampah, bau dan meningkatkan daya resapan air,” jelasnya.
                                          Lubang Resapan Biopori                   foto : ist
Lanjut Ni Made Armadi, teknologi sederhana yang cuma bermodalkan bor biopori, linggis, kape, pisau dan sampah organik ini bisa diterapkan di Kampus Unud. “Lubang Resapan Biopori merupakan solusi cantik yang bisa dilakukan melalui sosialisasi, praktik langsung di halaman Kampus, pembuatan dan pengelolaan LRB oleh anak-anak Mapala khususnya,” tuturnya.
Acara pun tak hanya sebatas sosialisasi saja.Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan LRB di depan Gedung Pascasarjana. “Kami baru hanya mendapat izin di depan Gedung Pascasarjana, semoga kedepannya pembuatan LRB ini dapat diterapkan secara berkelanjutan di Kawasan Kampus Sudirman khususnya,” ungkapnya.
Ida Bagus Nyoman Sanjayadiputra pun berharap, “Setidaknya tindakan kecil yang kami lakukan ini dapat menggugah pihak Kampus untuk menerapkan LRB sebagai solusi penanganan banjir yang rutin menimpa Kampus Unud,” harapnya.
Aksi Lingkungan Hidup pembuatan Lubang Resapan Biopori di depan Gedung Pascasarjana Unud, (17/12/2011)  foto:dok mapala WD





Senin, 28 November 2011

What, Why and How this Blog Has been Created?

What ? Sebenernya udah lama sih mau pengen buat blog. Niat udah ada, minat apalagi. Tapi karena keragu-raguan #ngeles ( kenapa mesti ragu coba???) hehehe ^^, trus gak ada waktu #sok sibuk, dan alasan klasik yaitu males. hahaha..

Why ? Tapi karena niat pengen nulis dan berbagi lebih besar daripada alasan- alasan di atas, maka dengan berpikir keras #lebay, dibuatlah blog ini.. hahaha.. semoga bisa tetep nulis dan update. dan yang terpenting gak ragu-ragu dalam menulis.

How? Dengan melihat realita yang ada di sekitar, kita bisa menulis apa pun. Kita bebas berekspresi asal bertanggung jawab. Tak perlu terlalu teoritis, justru menurut saya fakta yang lebih menarik. Untuk apa menulis yang muluk-muluk tetapi tidak Anda alami sehari-harinya. Imajinasi memang penting.Tapi yang lebih penting bagaimana kita bisa membahasakan realitas yang kita temui dalam kehidupan.

So, just keep seeing, thinking, feeling, writing and blogging guys ^^b  
foto : shutterstok.com

Minggu, 28 Agustus 2011


         Trans Sarbagita? "Not So Bad Lah"

        Yap! hari ini tanggal 28 Agustus 2011. Minggu pagi yang ditandai dengan sedikit rintik hujan. Namun, ada sesuatu yang menarik pagi ini. Saya akan mencoba salah satu terobosan baru transportasi publik yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Perhubungan Provinsi Bali. Trans Sarbagita. Nama transportasi publik yang berupa bus ini.
Pagi itu menunjukkan pukul 10.30 ketika saya menunggu kedatangan bus Trans Sarbagita. Sebenarnya target jurusan bus ini adalah sesuai dengan namanya yaitu, Denpasar-Badung- Gianyar-Tabanan ini. Namun, hingga kini bus ini hanya melayani rute Batubulan- Nusa Dua.
Oke. Lanjut tentang perjalanan saya. Tak memerlukan waktu yang lama untuk menunggu bus ini. Menurut informasi, bus ini akan transit ke setiap halte dengan selang waktu 15 menit. Saya pun menunggu di halte dekat Jalan Baypass Ngurah Rai Sanur. Tepatnya di depan Lembaga Pendidikan dan Pariwisata Sanur.
Hari ini adalah pengalaman pertama saya naik bus Trans Sarbagita. Saya pun pergi bersama teman- teman dari Belanda. Tujuan kami adalah Nusa Dua. Tepatnya Museum Pasifika yang berada di kawasan Bali Tourism Development Centre (BTDC) Nusa Dua, Bali.
Tak sampai 1 menit bus pun datang. Persis setelah kami memarkir motor di seberang jalan. Sayangnya belum ada fasilitas parkir bagi penumpang yang ingin menggunakan fasilitas bus ini. Mungkin ini yang menjadi salah satu kendala. Terutama bagi yang ingin bepergian dengan bus ini tetapi rumah mereka berjauhan dengan halte.
Kendala lain atau mungkin lebih tepatnya pengembangan yang perlu dilakukan adalah halte yang belum memadai. Hanya terdapat 'print out' kertas yang berukuran A4 tertempel di dinding halte yang berisikan harga naik Bus Sarbagita rute Batubulan- Nusa Dua, umum : Rp. 3.500, pelajar & mahasiswa : Rp. 2.500 . Dan tidak terdapat petugas jaga tiket ataupun road map rute Trans Sarbagita. Sehingga penumpang tidak bisa mengetahui kemana saja rute yang ada.
Kami pun awalnya sempat ragu dan kecewa apakah mungkin bus akan datang. mengingat tak ada seorang pun di halte dan kurang lengkapnya informasi mengenai Trans Sarbagita ini di masing-masing rute. Jika ada, mungkin akan mengundang masyarakat untuk mencoba bus yang 'katanya' untuk mengurangi kemacetan lalu lintas ini.
Ketika kami memasuki bus ini, kami pun disambut oleh kernet bus ini. Lalu kami membayar karcis. Sistem pembayaran karcis yang digunakan masih manual. Jadi penumpang harus membayar pada kernet bus. Tapi bagaimana halnya jika penumpang dalam satu halte bergerombolan masuk sehingga mungkin saja terjadi salah hitung?. Apalagi kernet bus tidak mengecek karcis penumpang lagi.
 
Bersih dan Sedikit. Trans Sarbagita yang baru  'launching' 10 hari ini (28/10/11)
nampak tak banyak yang mencobanya. Dan terlihat masih bersih :)
    Tak tampak banyak orang yang mengisi ke 33 kursi yang tersedia. Mungkin setengahnya yang terisi. Suasana bus pun masih tampak bersih. Ya maklum saja, sejak hari pertama peluncuran Trans Sarbagita (18/08/10) belum banyak masyarakat yang mencobanya. Dan semoga saja kebersihannya tetap bisa bertahan.
Sepanjang halte yang dilewati, tak banyak penumpang yang masuk maupun keluar. Menurut kernet bus , Erik Junadi bus yang telah beroperasi baru 13 buah unit. Dan rute yang ada hanya Batubulan- Nusa Dua. " Kami masih dalam proses survei. Halte yang tersedia baru sedikit," ujarnya.
Perjalanan bus pun mulus-mulus saja. Maklumlah hari ini hari minggu. Lalu lintas lengang. Bus pun melaju lancar melewati Simpang Siur kemudian Bukit Jimbaran. Namun sayangnya, halte di Kampus Unud Bukit Jimbaran belum tersedia. Memang disayangkan transportasi publik ini belum menyentuh ruang mahasiswa dan pelajar sepenuhnya. " Untuk halte di Kampus Bukit belum ada. Tapi mungkin nanti akan dibangun. Untuk halte di kawasan Bukit Jimbaran, baru ada di halte Taman Griya, " lanjut Erik.
Setelah 40 menit perjalanan, sampailah kami di kawasan BTDC. Tepatnya di Halte BTDC 1 yang merupakan tempat pemberhentian terakhir Trans Sarbagita. Perjalanan akhir pekan yang menarik. Semoga saja dengan adanya transportasi publik ini bisa membuat pengembangan Bali yang semakin baik.

Sabtu, 29 Januari 2011


Pelatihan New Media untuk Penggiat Persma 

Hari ini, (29/01) Sloka Institute bekerjasama dengan Persma Akademika Unud menggelar Pelatihan New Media untuk Pers Mahasiswa. Bertempat di ruangan galeri Popo Danes di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.
Kegiatan pelatihan ini dilakukan sebagai tindak lanjut hasil pertemuan Pers Mahasiswa (Persma) tanggal 27 November 2010 lalu. “Acara ini diadakan melihat kebutuhan Persma yang kebanyakan hasil tulisannya berupa media cetak padahal sekarang media umum beralih ke media online,” ujar Anton Muhajir, Pengelola Sloka Institute.
“Terlebih lagi output tulisan Persma yang semakin menurun. Dan dituntut perkembangan teknologi saat ini. Sehingga melalui pelatihan ini, kualitas tulisan di media online diharapkan semakin bagus,” tutur Giri Sujana, Divisi Pengembangan SDM Persma Akademika.
Acara ini akan berlangsung selama 2 hari. Dari tanggal 29-30 Januari 2011 bertempat di lokasi yang sama. Dengan Pembicara Redaktur Pelaksana dari vivanews.com, Suwarjono tentang media online di hari pertama.
Dengan jumlah peserta sekitar 15 orang dari berbagai Persma di Denpasar, membuat acara tampak antusias. “Dengan acara ini, saya jadi aware dengan media yang sedang berkembang, dan memberi pengaruh besar,” kesan Surya Bhuana, peserta dari LPM Pcyco Fakultas Kedokteran Unud.
Lain halnya dengan Desi Bintari. “Melalui pelatihan new media ini, saya ingin membuat domain sendiri dan lebih berlatih menulis di media online,” aku peserta dari Persma Akademika ini.
Melalui acara ini, Anton Muhajir berharap para peserta bisa aware terhadap media online.  Peserta bisa beralih dari blogspot ke domain sendiri,“ harapnya.
Giri Sujana pun berharap, “ Manajemen Persma bisa semakin bagus. Apalagi tulisan di media online berbeda dengan media cetak,” tukasnya.